Selasa, 17 Februari 2015


BILA  “SI PUNGGUK” JADI WALIKOTA

Oleh : Abd. Halim Asy’ ary

Kata orang, omong itu gampang, kalau sekedar omong kosong. Omong jadi susah kalau omongan itu harus dituntut bobot kualitas beserta bukti aplikasinya. Omong bahkan akan semakin susah kalau di dalamnya harus terkandung bobot ide brilliant, punya arah sasaran, daya pikat dan keteraturan.  

Ketika parameter ini menjadi prasyarat yang harus dipatuhi untuk sebuah “omongan”, maka akan terlalu terasa sukar bagi setiap orang untuk omong seenaknya. Artinya, dunia manusia akan lengang dari suara hiruk pikuk omongan, bila setiap orang telah merasa sukar omong.  Maka, mumpung selagi perbuatan “omong asal” belum terkena pajak, menjadi ramailah setiap hari dunia manusia dengan ‘omong kosong’.

Rabu, 11 Februari 2015

Paradigma Pembangunan Kepariwisataan

Gambar: Kampung Bajo Kabupaten Buton Utara-Sulawesi Tenggara-Indonesia

Pariwisata seringkali dipresepsikan sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Bahkan industri Pariwisata diprediksikan mampu menggantikan posisi Migas dalam perolehan devisa negara.

Terdorong oleh presepsi dan pemikiran ke arah itu, bahwa pariwisata mampu menjadi mesin ekonomi penghasil devisa ini, maka bukan hanya negara-negara di dunia yang berlomba, tapi juga bagi daerah-daerah di Nusantara ini ikut berpacu. Bagi daerah-daerah yang memiliki keragaman obyek dan daya tarik wisata, termasuk beragam keunikan atraksi budaya, kemudian berpacu mengembangkan sekaligus mempromosikan potensi kepariwisataannya, guna memancing antusiasme para wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan nusantara dan lokal. 

Selasa, 10 Februari 2015

Tentang Saya



Perkenalkan, saya Drs. Abd. Halim Asy' ary, M.Si, pensiunan Pegawai Negeri Sipil. Dalam menjalani karir, sambil kuliah pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Keuangan (STIKI) Ujung Pandang (sekarang Makassar), saya juga menjalani profesi sebagai Jurnalis/Wartawan pada Harian Pedomana Rakyat Ujung Pandang, sejak tahun 1978 hingga tahun 1986. Sebelum kuliah pada STIKI Ujung Pandang, sempat pula pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ujung Pandang, namun hanya sampai tingkat II dari tahun 1973-1974. Tamat dari STIKI Ujung Pandang pada tahun 1985, langsung masuk kerja pada Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kendari yang terangkat TMT 1986.

Senin, 09 Februari 2015

ORANG-ORANG DALAM LINGKARAN

“ORANG-ORANG DALAM LINGKARAN”
Oleh : Abd. Halim Asy’ ary*

            Di dalam “lingkaran itu”, ada orang besar, ada yang dibesar-besarkan, tetapi ada pula yang membesar-besarkan diri. Ada juga orang kecil, dan ada yang dikecilkan ataupun diperkecil. Memang ada yang  dikucilkan, tetapi yang paling celaka adalah orang yang berjiwa kecil dan kerdil. Ada pula yang merasa bijak kemudian mengecilkan diri dan mengucilkan diri agar tidak terimbas virus cemoohan fitnah dari orang-orang yang sedang jadi “pahlawan kemanusiaan”.