Senin, 06 April 2015

POTENSI PARIWISATA
KABUPATEN BUTON UTARA-SULAWESI TENGGARA

Hingga tahun 2015, Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu dari 17 Kabupaten yang ada di Sulawesi Tenggara. Letak Kabupaten Buton Utara, sebelah Utara berbatasan dengan Kendari dan Konawe Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Muna, sebelah Timur berbatasan dengan Kepulauan Wakatobi dan Laut Banda, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton.  Secara geografis, Kabupaten Buton Utara wilayahnya meliputi sebagian Pulau Buton bagian Utara serta pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar kawasan tersebut. 

Kabupaten Buton Utara merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Muna. Pembagian wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Buton Utara meliputi enam kecamatan yaitu, Kecamatan Bonegunu, Kecamatan Kambowa, Kecamatan Wakorumba, Kecamatan Kulisusu, Kecamatan Kulisusu Barat, dan Kecamatan Kulisusu Utara.    

Guna percepatan pembangunan melaluin peningkatan kualitas dan kemudahan memperoleh pelayanan bagi masyarakat, pada tahun 2013 telah dilakukan pemekaran desa, dari enam kecamatan yang ada terbagi menjadi 78 desa dan 12 kelurahan.
Kabupaten Buton Utara yang beribukota Buranga terletak 4060 – 5015 Lintang Selatan dan 122059 – 123015 Lintang Timur dengan luas wilayah keseluruhan 1.923,03 Km2 daratan dan sekitar2.500 Km lautan.  Kabupaten yang memiliki simbol kulit kerang atau “kulisusu” ini, berpenduduk 52.411 jiwa (data BPS tahun 2013) yang sebagian besar penduduk berdomisili di Kota Ereke. Mata pencaharian diantara penduduk  sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang.
Potensi Obyek dan daya tarik Wisata yang dimiliki Kabupaten Buton Utara meliputi, obyek dan daya tarik wisata bahari, wisata alam hutan tropis, peninggalan sejarah, atraksi budaya serta wisata kuliner. 

Ø  SEJARAH BUDAYA YANG MASIH LESTARI
Kabupaten Buton Utara terbentuk dari sebuah kerajaan yang dibangun pada abad ke-15 yang pernah menjadi daerah bagian Kesultanan Buton yang disebut Barata Kulisusu.  Beberapa peninggalan kerajaan berupa bangunan tua bersejarah yang masih terpelihara seperti Benteng Lipu, Benteng Bengkudu, Baruga Benteng Lipu, serta benteng-benteng kuno lainnya yang tersebar di beberapa tempat, sampai saat ini bisa disaksikan para wisatawan pengunjung.
Sejarah panjang Buton Utara terbentuk dari kondisi sosial budaya yang dinamis masyarakatnya, dipengaruhi dan berkembang sejalan dengan kehidupan alam tropis dan lautan di sekelilingnya.  Falsafah hidup yang masih tetap dijaga dan dilestarikan sampai saat ini oleh masyarakat Buton Utara lebih dikenal dengan  “Lipu Tinadeakono Sara”, yang berarti, daerah yang dibangun dengan berazaskan hukum sebagai prinsip yang terus dipegang dan dilestarikan.    
Ø  BENTENG LIPU
Bangunan peninggalan sejarah yang dikenal sebagai Keraton Lipu, hingga saat ini masih dapat disaksikan oleh masyarakat ataupun para wisatawan. Bangunan Keraton tersebut dikelilingi oleh Benteng Batu (Limestone) dengan luas lingkarnya Pemerintahan sekitar 1900 M2. Benteng yang dibangun dengan bahan batu kapur ini menjadi pusat dari Kerajaan Kulisusu dan juga sekaligus sebagai pelindung dari serangan kerajaan lain.
Sedikitnya lebih dari sepuluh bentang dibuat di daerah ini yang tersebar di semua bagiannya. Ada beberapa bangunan kuno di dalam komplek Benteng Lipu ini diantaranya Masigi Lipu  atau Masjid Lipu sebagai ibadah shalat, Baruga Lipu (Ruang Pertemuan), Raha Bulelenga (Rumah Meditasi), Mata Morawu ((Monumen Kerang Besar), dan beberapa tombak raja-raja dan saudara-saudaranya.
Masyarakat setempat, hingga saat ini masih mempercayai tempat tersebut sebagai Pusat Ritual dan upacara Adat yang disertai tari-tarian serta pertemuan adat guna mendeskripsikan isu-isu social budaya dan mendapatkan pemecahanannya.       

 Ø  TARIAN DAN UPACARA TRADISIONAL
Tari-tarian biasanya diadakan pada upacara adat seperti;  Alionda yang merupakan ajang perkenalan antara muda-mudi, dimana acara ini untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan, yang biasanya empat hari dimulainya Ramadhan.  Tari Lense; menggunakan keris, merupakan tarian penyambutan ‘Selamat Datang’ kepada tamu  yang berkunjung ke daerah ini. Selain tari Alionda, ada pula Tari Kompania dan Pangaru yang juga merupakan tarian untuk menyambut tamu. Tarian Kompania adalah tarian bagi sekelompok Prajurit muda yang berpakaian adat seragam dengan perlengkapan tobo (pisau), sedang tari Pangaru dimainkan oleh orang tua usia.
Dahulu atraksi Tari Kompania ini biasanya dimainkan oleh para prajurit muda dari rumah ke rumah penduduk setiap hari minggu atau hari raya.
 Pada saat tarian kompania tersebut sedang dimainkan, para ibu rumah tangga biasanya berduyun-duyun membawa anaknya ke tempat itu agar bias digendong oleh prajurit muda penari kompania. Konon, hal itu karena masyarakat mepercayai mitos kepercayaan, bahwa kalau anaknya bisa digendong oleh prajurit penari kompania, anak itu akan berumur panjang.   Para prajurit penari kompania, biasanya mendapat sumbangan uang sekedarnya sesuai kerelaan masyarakat pengunjungnya. Tari Ngibi, adalah tarian jenis lainnya yang merupakan tarian untuk perkenalan antara muda-mudi.
Ada beberapa upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Buton Utara seperti, upacara adat perkawinan yang disebut Kouni (yang didefinisikan sebagai proses pelamaran), Kansiwi (pengantaran paket pinangan), Katangka ((usul/saran perkawinan), Ponahua (malam pacar), Polaha (kunjungan calon mempelai laki-laki pada suatu malam sebelum pernikahan), Petanda; adalah saat pengucapan ijab Kabul, Popindai Raha; saat pengantin wanita berkunjung ke rumah pengantin laki-laki, Poala Sorongano Tama; prosesi mengambil pakaian pengantin laki-laki untuk dipindahkan ke rumah pengantin perempuan.
Upacara lainnya yang masih lestari adalah Petompo, yakni acara tujuh bulanan ibu hamil, Kangkahua Kampua, yakni langkah atau injak pertama tanah untuk anak bayi, Pekoiri, adalah acara gunting rambut bayi, Pesondo, acara pengobatan anak, Kabengka, acara sunatan atau khitanan, Perere, pemberian nasehat kepada anak setelah sunatan/khitanan, Poato, adalah prosesi membawa anak setelah sunatan/khitanan untuk berkeliling kampong. 

 Ø  HUTAN TROPIS
Kabupaten Buton Utara memiliki berbagai potensi obyek dan daya tarik wisata alam berupa obyek wisata bahari maupun obyek wisata hutan tropis. Di bagian obyek wisata bahari daerah memiliki wisata pantai pasir putih, yang juga bias melakukan snorkeling sambil menikmati keindahan taman laut terumbu karang. Juga ada permandian alam serta berbagai kawasan hutan tropis yang belum tersentuh tangan jahil manusia. Di kawasan itu sangat cocok untuk melakukan kegiatan eko wisata, termasuk penelitian dan pengamatan margasatwa liar, menikmati keindahan gua, tracking, hiking, panjat tebing, menikmati keindahan burung (spesies endemic) yang beterbangan, dan lain-lain. Beberapa akses hutan tropis di Buton Utara adalah Labuan, Patetea, Pongkowulo dan Bubu.
Program pemerintah mengembangkan 2 jenia hutan,  yaitu hutan lindung dan hutan wisata yang berbasis pada pendekatan hutan lindung dan konservasi. Dari keindahan keanekaragaman  hayati dapat disimpulkan bahwa area ini sangat indah dan cocok untuk tujuan wisata, termasuk menawaran kepada wisatawan dengan berbagai kegiatan berpetualang seperti menyaksikan burung beterbangan, menyaksikan lika-liku goa, berperahu, dan berkemah disekitarnya. Ada sebuah perencanaan untuk berpetualang melakukan program penelitian diarea ini dimasa yang akan datang.


Ø  PANTAI MEMBUKU
Pantai membuku adalah sebuah pantai berpasir putih dengan ratusan pohon kelapa disekelilingnya yanga terletak hanya 3 Km dari kota Ereke. Obyek wisata ini berhubungan langsung dengan laut Banda, disana bisa berenang, menyelam, snorkeling, berjemur, olahraga, memancing, dan tersedia pula taman bermain bagi anak-anak. Pantai ini hanya berjarak tempuh selama 5 menit dengan segala macam kendaraan.
Ø  PANTAI BONE
Berada di sebelah Selatan Tanjung Goram kira-kira 5 km dari kota Ereke. Beberapah kegiatan seperti memancing dan berenang  serta bersantai. Di areal ini merupakan pusat kegiatan pembakaran ikan asap sebagai salah satu sumber penghasilan masyarakat setempat di sepanjang pantai Bone.
Beberapah permandian alam seperti Ee nunu, Eengkapala, Pasarambulaea dan Cinariene, merupakan empat lokasi permandian alam yang terpisah satu sama lain yang berjarak kurang lebih 100 meter.  Obyek permandian alam ini bagian dasar air berkerikil yang berdindingkan oleh bebatuan pegunungan. Sedangkan di sekitarnya dikelilingi oleh pepohonan kelapa.

Ø  EE MOLOKU
Lokasi permandian alam yang satu ini juga berada di bagian Selatan Tanjung Goram sekitar 10 Km dari kota Ereke. Disini juga bisa melakukan aktivitas berenang dan berjemur serta bersantai, sambil menikmati suasana sejuknya alam.

Ø  MATA RUMBIA
Rumbia adalah sebuah jenis pepohonan. Mata, dimaksudkan adalah ‘mata air’. Maka, mata rumbia, dimaksudkan adalah tumbuhan pepehonan bernama Rumbia  yang di bawahnya menyembur mata air pegunungan. Kurang lebih begitulah gambaran lokasi obyek wisata permandian yang satu ini. Dia merupakan sebuah danau alam yang di dalamnya terdapat mata air dengan pohon besar serta dikelilingi pepohonan kelapa di sekitarnya. Lokasinya  terletak bagian Barat sekitar 10 Km dari kota Ereke. Perpaduan antara kesejukan mata air dan suasana alam pegunungan, akan membuat kita betah berada di lokasi ini.

Ø  TERUMBU KARANG
Sebagian perairan laut Buton Utara bersambung/berhubungan langsung dengan Taman Laut Wakatobi dan laut Banda. Dengan posisinya yang demikian ini menjadikan daerah ini memiliki keindahan taman laut dengan beraneka ragam biota laut. Berbagai aneka ragam keindhan terumbu karang yang dimilki taman bawah laut ini, diantaranya adalah dinding-dinding karang, lereng-lereng, serta gunung-gunung karang dan bumbungan bawah laut.

Ø  KULINER
Berbicara soal kuliner, maka tumpi-tumpi adalah salah satu yang menjadi kuliner cirri khas daerah ini. Tumpi-tumpi adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari ikan tuna dengan  rasa yang gurih dan dapat dijadikan sebagai pelengkap makanan utama. Kecuali itu, ada pula hole-hole (masakan tradisional). Kuliner ini adalah sejenis makanan tradisional ketika pesta sebagai snak (makanan ringan) yang dibuat dari tepung beras.

Ø  KERAJINAN DAN INDUSTRI RUMAH TANGGA
Beberapa kerajinan tangan yang merupakan “home industry” diantaranya adalah yang dibuat dari nentu dalam bentuk kotak tempat bumbu dapur, asbak dan aksesoris lainnya.  Ada pula yang terbuat dari batang pohon bamboo dan batang pohon kelapa. Sarung tenun bermotif khas daerah, akan merupakan cenderamata (ole-ole) sebagai kenang-kenangan bagi setiap wisatawan yang berkujung ke Buton Utara.
Sealain itu, ada pula kain tenun  dijadikan sebagai bahan pakaian (baju) tradisional. Kain tenun khas daerah tersebut umumnya dikerjakan/dibuat oleh kaum perempuan di desa sekitarr okyek wisata. Sementara itu, Industry rumah tangga di Buton Utara, juga memproduksi minyak kelapa asli yang dapat digunakan selain untuk kebutuhan dapur rumah tangga, juga berkhasiat untuk obat flu, demam, dan diare.

Ø  BAGAIMANA MENUJU BUTON UTARA
Telah dijelaskan di bagian terdahulu, bahwa Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara dan sebagai Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Muna. Artinya, salah satu jalur menuju ke Kabupaten Buton Utara dapat melalui Kabupaten Muna, namun rasanya akan kurang efektif dan efisien karena akan sedikit berputar.
Yang paling simple, adalah dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan menumpang kapal laut dalam dua pilihan. Pertama, dengan menumpang kapal kayu yang secara rutin menuju ke Buton Utara setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu. Lama perjalanan dengan kapal kayu tersebut sekitar enam jam. Setelah dari Buton Utara, kapal kayu tersebut juga melanjutkan pelayarannya ke Wakatobi.  Kedua, menumpang kapal cepat terbuat dari Viber dengan lama perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam.  Untuk menuju Kota Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara, wisatawan bias melalui penerbangan dari Makassar dan/atau langsung dari Jakarta ke Kendari. 
Alternatif lain, wisatawan dapat melalui penerbangan dari Makassar ke kota Bau-bau, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju ke Kabupaten Buton Utara melalui darat dengan mobil.

Ø  HOTEL DAN RESTORAN
Para wisatawan yang akan berkunjung ke Kabupaten Buton Utara, tak perlu khawatir dengan  fasilitas Hotel dan Restoran. Karena sejak terbentuknya sebagai sebuah Kabupaten, di Kabupaten Buton Utara kini telah tersedia sejumlah hotel dan restoran yang dapat melayani para wisatawan.












Senin, 16 Maret 2015

GEOGRAFI KABUPATEN BUTON UTARA


GEOGRAFIS KABUPATEN BUTON UTARA

Pada halaman ini kami sajikan data Geografi Kabupaten Buton Utara yang meliputi, luas wilayah, kondisi tanah yang meliputi, topografi, geologis, hidrologis/keadaan perairan (laut dan sungai), keadaan iklim, dan curah hujan.

Letak Geografi dan Batas Wilayah.
Kabupaten Buton Utara dengan ibukota di Buranga merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara-Indonesia yang dibentuk melalui Undang-Undang No.17 Tahun 2007. Wilayahnya meliputi sebagian Pulau Buton bagian Utara, serta pulau-pulau kecil yang tersebar di sekitar kawasan tersebut.
Kabupaten Buton Utara terletak di bagian Selatan Khatulistiwa pada garis Lintang 40 06’ Sampai 50 15’ Lintang Selatan, dan dari Barat ke Timur 1220 59 Bujur Timur sampai dengan 1230 15 Bujur Timur.

Selasa, 17 Februari 2015


BILA  “SI PUNGGUK” JADI WALIKOTA

Oleh : Abd. Halim Asy’ ary

Kata orang, omong itu gampang, kalau sekedar omong kosong. Omong jadi susah kalau omongan itu harus dituntut bobot kualitas beserta bukti aplikasinya. Omong bahkan akan semakin susah kalau di dalamnya harus terkandung bobot ide brilliant, punya arah sasaran, daya pikat dan keteraturan.  

Ketika parameter ini menjadi prasyarat yang harus dipatuhi untuk sebuah “omongan”, maka akan terlalu terasa sukar bagi setiap orang untuk omong seenaknya. Artinya, dunia manusia akan lengang dari suara hiruk pikuk omongan, bila setiap orang telah merasa sukar omong.  Maka, mumpung selagi perbuatan “omong asal” belum terkena pajak, menjadi ramailah setiap hari dunia manusia dengan ‘omong kosong’.

Rabu, 11 Februari 2015

Paradigma Pembangunan Kepariwisataan

Gambar: Kampung Bajo Kabupaten Buton Utara-Sulawesi Tenggara-Indonesia

Pariwisata seringkali dipresepsikan sebagai mesin ekonomi penghasil devisa bagi pembangunan ekonomi di suatu negara, tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian pada prinsipnya pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas bagi suatu negara. Bahkan industri Pariwisata diprediksikan mampu menggantikan posisi Migas dalam perolehan devisa negara.

Terdorong oleh presepsi dan pemikiran ke arah itu, bahwa pariwisata mampu menjadi mesin ekonomi penghasil devisa ini, maka bukan hanya negara-negara di dunia yang berlomba, tapi juga bagi daerah-daerah di Nusantara ini ikut berpacu. Bagi daerah-daerah yang memiliki keragaman obyek dan daya tarik wisata, termasuk beragam keunikan atraksi budaya, kemudian berpacu mengembangkan sekaligus mempromosikan potensi kepariwisataannya, guna memancing antusiasme para wisatawan mancanegara (Wisman) maupun wisatawan nusantara dan lokal. 

Selasa, 10 Februari 2015

Tentang Saya



Perkenalkan, saya Drs. Abd. Halim Asy' ary, M.Si, pensiunan Pegawai Negeri Sipil. Dalam menjalani karir, sambil kuliah pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Keuangan (STIKI) Ujung Pandang (sekarang Makassar), saya juga menjalani profesi sebagai Jurnalis/Wartawan pada Harian Pedomana Rakyat Ujung Pandang, sejak tahun 1978 hingga tahun 1986. Sebelum kuliah pada STIKI Ujung Pandang, sempat pula pada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ujung Pandang, namun hanya sampai tingkat II dari tahun 1973-1974. Tamat dari STIKI Ujung Pandang pada tahun 1985, langsung masuk kerja pada Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) di Kendari yang terangkat TMT 1986.

Senin, 09 Februari 2015

ORANG-ORANG DALAM LINGKARAN

“ORANG-ORANG DALAM LINGKARAN”
Oleh : Abd. Halim Asy’ ary*

            Di dalam “lingkaran itu”, ada orang besar, ada yang dibesar-besarkan, tetapi ada pula yang membesar-besarkan diri. Ada juga orang kecil, dan ada yang dikecilkan ataupun diperkecil. Memang ada yang  dikucilkan, tetapi yang paling celaka adalah orang yang berjiwa kecil dan kerdil. Ada pula yang merasa bijak kemudian mengecilkan diri dan mengucilkan diri agar tidak terimbas virus cemoohan fitnah dari orang-orang yang sedang jadi “pahlawan kemanusiaan”.