POTENSI PARIWISATA
KABUPATEN
BUTON UTARA-SULAWESI TENGGARA
Hingga
tahun 2015, Kabupaten Buton Utara merupakan salah satu dari 17 Kabupaten yang
ada di Sulawesi Tenggara. Letak Kabupaten Buton Utara, sebelah Utara berbatasan
dengan Kendari dan Konawe Selatan, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten
Muna, sebelah Timur berbatasan dengan Kepulauan Wakatobi dan Laut Banda, dan
sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Buton. Secara geografis, Kabupaten Buton Utara
wilayahnya meliputi sebagian Pulau Buton bagian Utara serta pulau-pulau kecil
yang tersebar di sekitar kawasan tersebut.
Kabupaten
Buton Utara merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Muna. Pembagian wilayah
administrasi pemerintahan Kabupaten Buton Utara meliputi enam kecamatan yaitu, Kecamatan Bonegunu, Kecamatan Kambowa,
Kecamatan Wakorumba, Kecamatan Kulisusu, Kecamatan Kulisusu Barat, dan
Kecamatan Kulisusu Utara.
Guna
percepatan pembangunan melaluin peningkatan kualitas dan kemudahan memperoleh
pelayanan bagi masyarakat, pada tahun 2013 telah dilakukan pemekaran desa, dari
enam kecamatan yang ada terbagi menjadi 78 desa dan 12 kelurahan.
Kabupaten
Buton Utara yang beribukota Buranga terletak 4060 – 5015 Lintang
Selatan dan 122059
– 123015
Lintang Timur dengan luas wilayah keseluruhan 1.923,03 Km2 daratan dan
sekitar2.500 Km lautan. Kabupaten yang
memiliki simbol kulit kerang atau “kulisusu”
ini, berpenduduk 52.411 jiwa (data BPS tahun 2013) yang sebagian besar penduduk
berdomisili di Kota Ereke. Mata pencaharian diantara penduduk sebagian besar
sebagai petani, nelayan, dan pedagang.
Potensi
Obyek dan daya tarik Wisata yang dimiliki Kabupaten Buton Utara meliputi, obyek
dan daya tarik wisata bahari, wisata alam hutan tropis, peninggalan sejarah,
atraksi budaya serta wisata kuliner.
Ø SEJARAH
BUDAYA YANG MASIH LESTARI
Kabupaten
Buton Utara terbentuk dari sebuah kerajaan yang dibangun pada abad ke-15 yang
pernah menjadi daerah bagian Kesultanan Buton yang disebut Barata Kulisusu. Beberapa peninggalan kerajaan berupa bangunan
tua bersejarah yang masih terpelihara seperti Benteng Lipu, Benteng Bengkudu,
Baruga Benteng Lipu, serta benteng-benteng kuno lainnya yang tersebar di
beberapa tempat, sampai saat ini bisa disaksikan para wisatawan pengunjung.
Sejarah
panjang Buton Utara terbentuk dari kondisi sosial budaya yang dinamis
masyarakatnya, dipengaruhi dan berkembang sejalan dengan kehidupan alam tropis
dan lautan di sekelilingnya. Falsafah
hidup yang masih tetap dijaga dan dilestarikan sampai saat ini oleh masyarakat
Buton Utara lebih dikenal dengan “Lipu
Tinadeakono Sara”, yang berarti, daerah yang dibangun dengan berazaskan
hukum sebagai prinsip yang terus dipegang dan dilestarikan.
Ø BENTENG
LIPU
Bangunan peninggalan sejarah yang dikenal sebagai
Keraton Lipu, hingga saat ini masih dapat disaksikan oleh masyarakat ataupun
para wisatawan. Bangunan Keraton tersebut dikelilingi oleh Benteng Batu
(Limestone) dengan luas lingkarnya Pemerintahan sekitar 1900 M2. Benteng yang
dibangun dengan bahan batu kapur ini menjadi pusat dari Kerajaan Kulisusu dan
juga sekaligus sebagai pelindung dari serangan kerajaan lain.
Sedikitnya lebih dari sepuluh bentang dibuat di daerah
ini yang tersebar di semua bagiannya. Ada beberapa bangunan kuno di dalam
komplek Benteng Lipu ini diantaranya Masigi Lipu atau Masjid Lipu sebagai ibadah shalat,
Baruga Lipu (Ruang Pertemuan), Raha Bulelenga (Rumah Meditasi), Mata Morawu
((Monumen Kerang Besar), dan beberapa tombak raja-raja dan saudara-saudaranya.
Masyarakat setempat, hingga saat ini masih mempercayai
tempat tersebut sebagai Pusat Ritual dan upacara Adat yang disertai tari-tarian
serta pertemuan adat guna mendeskripsikan isu-isu social budaya dan mendapatkan
pemecahanannya.
Ø TARIAN DAN
UPACARA TRADISIONAL
Tari-tarian biasanya diadakan pada upacara adat
seperti; Alionda yang merupakan ajang perkenalan antara muda-mudi, dimana
acara ini untuk menyambut datangnya Bulan
Ramadhan, yang biasanya empat hari dimulainya Ramadhan. Tari
Lense; menggunakan keris, merupakan
tarian penyambutan ‘Selamat Datang’ kepada tamu yang berkunjung ke daerah
ini. Selain tari Alionda, ada pula Tari
Kompania dan Pangaru yang juga
merupakan tarian untuk menyambut tamu. Tarian
Kompania adalah tarian bagi sekelompok Prajurit muda yang berpakaian adat seragam
dengan perlengkapan tobo (pisau),
sedang tari Pangaru dimainkan oleh orang tua usia.
Dahulu atraksi Tari
Kompania ini biasanya dimainkan oleh para prajurit muda dari rumah ke rumah
penduduk setiap hari minggu atau hari raya.
Pada saat
tarian kompania tersebut sedang dimainkan, para ibu rumah tangga biasanya
berduyun-duyun membawa anaknya ke tempat itu agar bias digendong oleh prajurit
muda penari kompania. Konon, hal itu karena masyarakat mepercayai mitos
kepercayaan, bahwa kalau anaknya bisa digendong oleh prajurit penari kompania,
anak itu akan berumur panjang. Para
prajurit penari kompania, biasanya mendapat sumbangan uang sekedarnya sesuai
kerelaan masyarakat pengunjungnya. Tari
Ngibi, adalah tarian jenis lainnya yang merupakan tarian untuk perkenalan
antara muda-mudi.
Ada beberapa upacara tradisional yang dilakukan oleh
masyarakat Buton Utara seperti, upacara adat perkawinan yang disebut Kouni (yang didefinisikan sebagai proses
pelamaran), Kansiwi (pengantaran
paket pinangan), Katangka ((usul/saran
perkawinan), Ponahua (malam pacar), Polaha (kunjungan calon mempelai
laki-laki pada suatu malam sebelum pernikahan), Petanda; adalah saat pengucapan ijab Kabul, Popindai Raha; saat pengantin wanita berkunjung ke rumah pengantin
laki-laki, Poala Sorongano Tama; prosesi
mengambil pakaian pengantin laki-laki untuk dipindahkan ke rumah pengantin
perempuan.
Upacara lainnya yang masih lestari adalah Petompo, yakni acara tujuh bulanan ibu
hamil, Kangkahua Kampua, yakni
langkah atau injak pertama tanah untuk anak bayi, Pekoiri, adalah acara gunting rambut bayi, Pesondo, acara pengobatan anak, Kabengka, acara sunatan atau khitanan, Perere, pemberian nasehat kepada anak setelah sunatan/khitanan, Poato, adalah prosesi membawa anak
setelah sunatan/khitanan untuk berkeliling kampong.
Ø HUTAN
TROPIS
Kabupaten Buton Utara memiliki berbagai potensi obyek
dan daya tarik wisata alam berupa obyek wisata bahari maupun obyek wisata hutan
tropis. Di bagian obyek wisata bahari daerah memiliki wisata pantai pasir
putih, yang juga bias melakukan snorkeling
sambil menikmati keindahan taman laut terumbu karang. Juga ada permandian alam
serta berbagai kawasan hutan tropis yang belum tersentuh tangan jahil manusia.
Di kawasan itu sangat cocok untuk melakukan kegiatan eko wisata, termasuk
penelitian dan pengamatan margasatwa liar, menikmati keindahan gua, tracking,
hiking, panjat tebing, menikmati keindahan burung (spesies endemic) yang beterbangan,
dan lain-lain. Beberapa akses hutan tropis di Buton Utara adalah Labuan,
Patetea, Pongkowulo dan Bubu.
Program pemerintah mengembangkan 2 jenia hutan, yaitu hutan lindung dan hutan wisata yang
berbasis pada pendekatan hutan lindung dan konservasi. Dari keindahan
keanekaragaman hayati dapat disimpulkan
bahwa area ini sangat indah dan cocok untuk tujuan wisata, termasuk menawaran kepada
wisatawan dengan berbagai kegiatan berpetualang seperti menyaksikan burung beterbangan,
menyaksikan lika-liku goa, berperahu, dan berkemah disekitarnya. Ada sebuah perencanaan
untuk berpetualang melakukan program penelitian diarea ini dimasa yang akan datang.
Ø PANTAI
MEMBUKU
Pantai membuku adalah sebuah pantai berpasir putih
dengan ratusan pohon kelapa disekelilingnya yanga terletak hanya 3 Km dari kota
Ereke. Obyek wisata ini berhubungan langsung dengan laut Banda, disana bisa
berenang, menyelam, snorkeling, berjemur, olahraga, memancing, dan tersedia
pula taman bermain bagi anak-anak. Pantai ini hanya berjarak tempuh selama 5
menit dengan segala macam kendaraan.
Ø PANTAI BONE
Berada di sebelah Selatan Tanjung Goram kira-kira 5 km
dari kota Ereke. Beberapah kegiatan seperti memancing dan berenang serta bersantai. Di areal ini merupakan pusat
kegiatan pembakaran ikan asap sebagai salah satu sumber penghasilan masyarakat
setempat di sepanjang pantai Bone.
Beberapah permandian alam seperti Ee nunu, Eengkapala, Pasarambulaea dan Cinariene, merupakan empat lokasi permandian alam yang terpisah
satu sama lain yang berjarak kurang lebih 100 meter. Obyek permandian alam ini bagian dasar air
berkerikil yang berdindingkan oleh bebatuan pegunungan. Sedangkan di sekitarnya
dikelilingi oleh pepohonan kelapa.
Ø EE MOLOKU
Lokasi permandian alam yang satu ini juga berada di
bagian Selatan Tanjung Goram sekitar 10 Km dari kota Ereke. Disini juga bisa melakukan
aktivitas berenang dan berjemur serta bersantai, sambil menikmati suasana
sejuknya alam.
Ø MATA RUMBIA
Rumbia adalah sebuah jenis pepohonan. Mata, dimaksudkan adalah
‘mata air’. Maka, mata rumbia,
dimaksudkan adalah tumbuhan pepehonan bernama Rumbia yang di bawahnya menyembur mata air
pegunungan. Kurang lebih begitulah gambaran lokasi obyek wisata permandian yang
satu ini. Dia merupakan sebuah danau alam yang di dalamnya terdapat mata air
dengan pohon besar serta dikelilingi pepohonan kelapa di sekitarnya. Lokasinya terletak bagian Barat sekitar 10 Km dari kota
Ereke. Perpaduan antara kesejukan mata air dan suasana alam pegunungan, akan
membuat kita betah berada di lokasi ini.
Ø TERUMBU
KARANG
Sebagian perairan laut Buton Utara bersambung/berhubungan
langsung dengan Taman Laut Wakatobi dan laut Banda. Dengan posisinya yang
demikian ini menjadikan daerah ini memiliki keindahan taman laut dengan beraneka
ragam biota laut. Berbagai aneka ragam keindhan terumbu karang yang dimilki
taman bawah laut ini, diantaranya adalah dinding-dinding karang, lereng-lereng,
serta gunung-gunung karang dan bumbungan bawah laut.
Ø KULINER
Berbicara soal kuliner, maka tumpi-tumpi adalah salah satu yang menjadi kuliner cirri khas
daerah ini. Tumpi-tumpi adalah sejenis makanan tradisional yang terbuat dari
ikan tuna dengan rasa yang gurih dan dapat
dijadikan sebagai pelengkap makanan utama. Kecuali itu, ada pula hole-hole (masakan tradisional).
Kuliner ini adalah sejenis makanan tradisional ketika pesta sebagai snak (makanan
ringan) yang dibuat dari tepung beras.
Ø KERAJINAN
DAN INDUSTRI RUMAH TANGGA
Beberapa
kerajinan tangan yang merupakan “home
industry” diantaranya adalah yang dibuat dari nentu dalam bentuk kotak tempat
bumbu dapur, asbak dan aksesoris lainnya. Ada pula yang terbuat dari batang pohon bamboo
dan batang pohon kelapa. Sarung tenun bermotif khas daerah, akan merupakan
cenderamata (ole-ole) sebagai kenang-kenangan bagi setiap wisatawan yang
berkujung ke Buton Utara.
Sealain
itu, ada pula kain tenun dijadikan sebagai
bahan pakaian (baju) tradisional. Kain tenun khas daerah tersebut umumnya dikerjakan/dibuat
oleh kaum perempuan di desa sekitarr okyek wisata. Sementara itu, Industry
rumah tangga di Buton Utara, juga memproduksi minyak kelapa asli yang dapat
digunakan selain untuk kebutuhan dapur rumah tangga, juga berkhasiat untuk obat
flu, demam, dan diare.
Ø BAGAIMANA
MENUJU BUTON UTARA
Telah dijelaskan di bagian terdahulu, bahwa Kabupaten
Buton Utara merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara dan
sebagai Kabupaten pemekaran dari Kabupaten Muna. Artinya, salah satu jalur
menuju ke Kabupaten Buton Utara dapat melalui Kabupaten Muna, namun rasanya
akan kurang efektif dan efisien karena akan sedikit berputar.
Yang paling simple, adalah dari Kota Kendari, ibukota
Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan menumpang kapal laut dalam dua pilihan. Pertama, dengan menumpang kapal kayu
yang secara rutin menuju ke Buton Utara setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan
Sabtu. Lama perjalanan dengan kapal kayu tersebut sekitar enam jam. Setelah
dari Buton Utara, kapal kayu tersebut juga melanjutkan pelayarannya ke
Wakatobi. Kedua, menumpang kapal cepat terbuat dari Viber dengan lama
perjalanan sekitar 2,5 – 3 jam. Untuk
menuju Kota Kendari, ibukota Sulawesi Tenggara, wisatawan bias melalui
penerbangan dari Makassar dan/atau langsung dari Jakarta ke Kendari.
Alternatif lain, wisatawan dapat melalui penerbangan
dari Makassar ke kota Bau-bau, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan menuju
ke Kabupaten Buton Utara melalui darat dengan mobil.
Ø HOTEL DAN
RESTORAN
Para wisatawan yang akan berkunjung ke Kabupaten Buton
Utara, tak perlu khawatir dengan
fasilitas Hotel dan Restoran. Karena sejak terbentuknya sebagai sebuah
Kabupaten, di Kabupaten Buton Utara kini telah tersedia sejumlah hotel dan
restoran yang dapat melayani para wisatawan.